Niatnya sih mau kupas tuntas tentang Nazarrudin si artis lokal yang mengalahkan berita Afgan yang berpolemik dengan label Wanna-B. namun apadaya, saya gak bisa nulis tentang politik. like seriously, paper politik saya cuma dihargai 65 padahal saya yakin isinya bombastis ha ha haw (pede) kenapa nilai saya segitu? karena saya gak bisa mengungkapkan perpolitikan secara tulisan dengan baik. lisan would be better.
Tapi since Mbak Sarah, dosen politik saya gak baca ini tulisan, okelah saya akan mencoba menulis tanpa merasa ditekan oleh
alat-pengontrol-tingkah-laku-mahasiswa called nilai. Jadi maaf kalo isinya banyak sok tau dan pikiran
cere banget. maklum bukan mahasiswa politik, apalagi politikus. benar-benar sekedar mau mengungkapkan pendapat dan analisis pribadi kok :)
So, here we go, tidak usah berusaha membuat tulisan bagus agar dapat A. say what you need to say. write what you need to write.
Hit it!
Semua pasti udah bosen ,capek dan cukup mengerti tentang polemik Nazarrudin-Demokrat-KPK-Sekjen MK-X-Y-Z dan seterusnya itu. jadi gausah dijelasin lagi ya permasalahannya. kalo belum tahu dan tertarik, just simply googling it :D
saya sendiri pun jujur aja udah capeeeek banget nyalain TV, bahas Nazarrudin, dan berakhir kesel sendiri karena kok ga maju maju ya ini masalah. mbok ya tinggal ke Singapur, seret itu si udin yang suka ngerepotin alias Nazarrudin, terus abisin lah bongkar semuanya,tangkep, happily ever after.
Tapi, ternyata ini masalah yang sangat kompleks dan melibatkan banyak pihak. Bahkan kali ini saya terpaksa gak bisa nyalahin media yang terus terusan ngebahas permasalahan ini. karena ini bener bener menyangkut semuanya. kalo ini masalah terungkap dengan menyeluruh, SBY bisa bisa terancam dicopot dari kursi kepresidenan.
Sebenarnya Nazarrudin tuh benar benar ada di posisi skakmat. kiri kanan salah. maju nabrak,mundur kepentok. dia sebenarnya bisaaaaaaaa banget pulang dari kemaren kemaren. bahkan sebenernya ga penting banget ke Singapur. kalo dia emang ga salah sih dia bisa bisa aja berobat di Jakarta dulu. tapi dia udah keburu ciut jadinya kabur deh ke Singapur biar ga bisa dikejar. Indonesia tuh beruntung ya jadi tetangga Singapur. deket, bisa buat ngabur tanpa bisa ditangkep, bisa sambil belanja lagi disana ^^ jangan jangan dari awal Singapur memang udah sadar kalau warga Indonesia banyak yang Koruptor dan ngabur ke Singapur yang bisa menguntungkan pihak mereka. Jadi perjanjian Ekstradisi diberikan syarat yang cukup berat sehingga sampai sekarang belum terjadi penandatanganan perjanjian tersebut.
Back to topic coy. nah, kenapa Udin ciut? karena disini pelakunya gak hanya dia. benar benar mencakup partai secara keseluruhan. dari kasus ini aja udah bisa dilihat kalo aliran dana Demokrat gak transparan dan mostly kotor. Sebenernya keliatan sih, mari kita mundur ke tahun 2009 lalu, Nazarrudin itu siapa? dia itu baru masuk partai Demokrat tahun 2007 dan tahun 2009 udah jadi Bendum Partai Demokrat. ga aneh? dan FYI sebelumnya nazarrudin hanya pernah menjadi calon legislatif dari PPP. kenapa tiba-tiba dia dipercaya jadi bendum demokrat? saya gak tau sih prestasi prestasi dia, tapi yang jelas bendahara umum itu harus wajib banget seseorang yang selain bisa mencari duit dengan hebat, harus juga bisa dipercaya. bagaimana mempercayai seseorang yang baru 2 tahun bergabung? ingat, ini bukan partai cere lho. Demokrat merupakan salah satu Partai terbesar di Indonesia. Kualifikasi nya seharusnya gak main main.
Kalo analisis pribadi saya sih, masuknya Nazarrudin ke Partai Demokrat merupakan sebuah konspirasi besar dimana melibatkan seluruh partai itu sendiri. simpelnya mereka sadar,dengan memasukkan Nazarrudin yang 'gosip'nya dapat mencari uang dengan mudah (dgn cara apapun) itu, Kas partai mereka akan untung besar. yang pastinya memudahkan mereka untuk maju dan menang di pemilu selanjutnya dengan lenggang kangkung. dengan teori tersebut akhirnya dibuatlah deal-deal an kecil (nope,it's not. it's a HUGE deal ya pemirsa) yang menegaskan bahwa "lo bisa bayar berapa buat jadi bendum kita? privilage nya yaaa situ bisa ambil 10% dari tiap dana yg cair.gimana ajadeh caranya!" ya begitulah kira kira. Nazarrudin sebagai seorang pengusaha licik yang banyak duit itu merasa tertantang dong, deal lah mereka. terjadilah kasus Wisma Atlet yang akhirnya terungkap ke kancah publik.
Nah, disaat ke gap dengan sangat basah ini, Nazarrudin bingung. dia merasa salah. tapi haruskah ia menjadi kambing hitam demokrat? pilihan ada 2. jadi Pahlawan negara tapi negara terancam stabilitasnya karena semua skenario Demokrat terbongkar, atau jadi tumbal politik,
nge-blog dari balik jeruji.
Tadi siang saya baru saja menonton Metro TV dimana hadir seseorang dari Demokrat berdebat dengan OC Kaligis yang merupakan pengacara Nazarrudin. OC kaligis mengatakan dengan gamblang bahwa sebenarnya Nazarrudin ingin mengungkapkan semuanya,namun beliau khawatir akan stabilitas negara. bahkan OC Kaligis sempat menyebutkan bahwa NKRI berada dalam ancaman jika semuanya terbongkar. agak masuk akal, karena kita tidak boleh lupa bahwa presiden kita saat ini berasal dari Partai Demokrat sehingga tidak menuup kemungkinan bahwa semua ini merupakan skenario dari beliau juga (yaa saya sih ga ngira begitu karena SBY kan orangnya ciutan ha ha ha) dan jika hal tersebut benar adanya, berarti lagi lagi negara kita ditipu mentah mentah oleh para penguasa seperti yang terjadi pada masa orde baru, dikeruk terus hartanya,hingga hanya darah yang tersisa.
Jujur, kalau saya ada di posisi Nazarrudin saya juga akan
galau dan ingin menulis di
blog :p
Mungkin di lubuk hati paling dalam beliau ingin mengungkapkan semuanya biar ga hanya dia yang hancur, namun juga semua pihak pihak yang sama busuknya seperti dia. Tapi di sisi lain ingin pasrah sama keadaan. percuma,negara udah bobrok, daripada masalah makin kompleks mending saya yang jadi tumbal. macam sakit gigi, cara mengobatinya cuma dua, menambal tapi besok besok akan sakit lagi, atau mencabut, sakit namun sembuhnya permanen.
Ini dia yang menjadi alasan kenapa hasil check up beliau belum keluar juga padahal perasaan udah lama banget ke singapur nya ha ha ha. beliau belum berani menginjakkan kakinya di Indonesia.dan lagi memang belum ada pihak yang cukup berani untuk benar benar menjemput Nazarrudin kembali ke Jakarta, karena mereka sendiri belum tau mau memilih option yang mana,
Menambal kebusukan negara dengan kebusukan lain, atau
Mencabut kebusukan negara, sakit, namun perlahan menyembuhkan kecacatan negeri ini?